Saturday, May 25, 2013

Jangan dibaca! (you failed)

Bisa dibilang udah 2 bulan lah ya aku gak ngepost ._.
Seperti biasa alasannya sibuk.
Sibuk di sini maksudnya bisa apa aja sih sebenarnya.
Sibuk les/belajar, sibuk bikin tugas/pr, sibuk tidur, sibuk makan, sibuk ngenet, sibuk nonton tv, dan lain sebagainya.
Alasan lain palingan karena gak tau mau ngepost apa.

Jadi, post ini cuman tempat curhat nih ceritanya?
Nope. Males juga sih isinya curhat semua. Kalian pasti juga bosan bacanya. Karena curhatanku gak penting.
Aku bakal ngepost satu cerpen. Cerpen ini aku bikin bukan karena banyak waktu ya.
Ini karena ada tugas. Oke? Tugas! Ya, tugas bikin cerpen.
Judulnya agak aneh *I remind you* Ceritanya kayaknya juga aneh, agak kacau gitu *I remind you*
Kalau gak ngerti maklumin ya, aku kerjanya pas itu ngantuk ngantuk. hehe
please comment anything. I'll appreciate of it

cerpennya murni kayak tugas yang dikumpul, gak ada edit sama sekali, aku copas.
Happy reading!



“8024 789” From Dad



Aku berhasil bangun pagi. Hari ini adalah hari pertamaku masuk di semester 3. Aku harus ke kampus, bertemu lagi dengan dosen. Seperti biasa semua sudah berkumpul di kelas sebelum pukul 8 pagi, kecuali dosen killer kami. Tepat pukul 8, Bu Riza, dosen killer kami masuk. Tak pernah semenit pun dia terlambat. Kalau ada yang terlambat masuk ke kelasnya, dia bakal punya “surprise” yang udah disiapin dan kami gak bisa tebak itu apa. Untungnya, aku nggak pernah terlambat sekali pun. Sebenarnya aku bingung kenapa mereka sebut Bu Riza “killer”, padahal Bu Riza baik. Jadi aku sebut Bu Riza dosen killer itu cuman ikut-ikutan aja.

Hari ini topik pembelajaran kami adalah “kasus”. Masing-masing dari kami disuruh cari satu kasus. Lalu kami harus menceritakannya seolah kami menjadi korbannya. Otakku nge-blank, gak tau kasus apa yang harus diambil.

“Bu, boleh ambil dari yang pernah dialami kita, gak?”, tanya Gale, yang duduk di sebelahku.

“Boleh,” jawab Bu Riza. “Cerita diketik. Saya kasih waktu kalian selama 2 bulan, nanti kalian saya tanya tentang cerita kalian. Siap-siap saja.”

Setelah dengar itu, aku teringat satu hal. Kecelakaan yang dialami orang tuaku dan adikku yang membuat mereka kehilangan nyawa mereka. 5 tahun yang lalu, sekitar pukul 8 malam, aku sedang ada acara di sekolah. Tiba-tiba, pamanku yang seorang polisi meneleponku.

“Charlie... ada berita buruk untukmu dan sekeluarga kita,” kata paman.

“Ada apa, Paman?? Apa berita buruknya?!” tanyaku panik.

“.......kecelakaan.” Suara berisik di telepon membuatku merinding.

“Apa?? Siapa kecelakaan??!”

“Orang tuamu dan adikmu....tidak selamat.” Kepalaku langsung pusing.

Saat aku membuka mata, aku berada di ruangan yang menurutku asing. Tapi setelah aku lihat rangkaian bunga yang ada di dekat pintu, aku sadar aku berada di UKS sekolah. Aku langsung bangun dengan sikap duduk dan bertanya pada temanku yang duduk di sebelahku yang tadinya menungguku bangun, “Tadi aku kenapa??”

“Tadi pas kau lagi nelpon, aku lihat tiba-tiba kau pingsan,” jawab Maya.

Aku diam sejenak. Mataku langsung mengeluarkan air mata. Aku tak bisa menahannya. Maya langsung menghiburku, dia sudah dengar tentang keluargaku. Tetapi tetap saja aku gak bisa berhenti nangis.

Karena kejadian itu, sekarang aku tinggal bersama pamanku dan keluarganya. Aku cukup terhibur tinggal bersama mereka. Suatu saat, sewaktu aku jalan lewat kamar pamanku, selembar kertas yang ada di atas meja pamanku menarik perhatianku. Aku langsung ke sana, mengambil, dan membacanya. 8024 ZL 1 M. Tulisan ini tulisan ayahku. Aku kenal angka ini. Ayahku pernah membawaku ke tempat favoritnya di tepi danau dekat rumah tempat tinggal kami waktu itu. Ayahku mengukir 4 angka itu di sebuah kotak kayu rahasia kami yang kami kubur si dekat pohon tua raksasa. Tapi aku gak ngerti inisial lainnya. Jadi aku ambil kertas itu diam-diam dan menyimpannya.

Beberapa hari kemudian setelah penemuan itu, aku pergi ke rumahku yang dulu. Memories never dies. Banyak kenangan di sini. Aku jalan ke kamar orang tuaku ketika tiba-tiba ada seseorang yang mencoba membuka pintu depan dengan kunci. Aku kaget. Aku langsung sembunyi di toilet yang ada di sampingku. Untung saja aku gak lewat depan. Aku suka lupa mengunci pintu rumah. Aku masuk ke rumah lewat terowongan kecil yang pernah kubuat bersama orang tuaku dan adikku. Kami  buat dari dalam gudang di bawah tangga sampai di balik pohon besar yang ada di belakang rumah.

Pintu toilet tadi gak aku tutup rapat karena di dalam agak gelap. Dan juga karena aku mau ngintip siapa yang masuk ke sini. Aku gak tau yang megang kunci rumah selain aku siapa sekarang. Aku diurus orang lain ketika aku pindah ke rumah pamanku. Waktu aku lihat wajahnya, ternyata pamanku. Aku langsung keluar dari tempat persembunyianku.

“Paman di sini mau ngapain? Aku kira tadi yang datang orang jahat”, kataku. Saat itu, aku polos, jadi tanpa pikir panjang aku bilang begitu. Dan tentunya paman kaget karena gak nyangka kalau aku juga ada di sana.

“....ng..nggak, cuma mau lihat-lihat aja,” jawabnya gagap. “Kamu sendiri kenapa di sini?”

“Kangen...,” jawabku polos sambil memegang bingkai foto keluargaku.
Kemudian pamanku melihat-lihat ruangan lain seperti memeriksa atau mencari sesuatu di sana. Sekilas aku sempat melihat wajah pamanku yang tampak kesal. Tapi aku gak mikir tentang hal negatif. Setelah selesai, paman membawaku kembali ke rumah. Di mobil, aku teringat ketika paman datang ke rumah. Lalu, aku juga teringat penemuanku di meja itu. Aku pikir, mungkin dua ini ada kaitannya.  Aku gak bermaksud jahat pada paman, tapi aku mulai merasa curiga. Sejak itu, aku mulai memperhatikan kegiatan-kegiatan pamanku.

Sampai sekarang belum ada kemajuan. Rasa curigaku juga belum hilang. Untuk tugas dari Bu Riza, sepertinya aku bakal milih ini jadi kasus. Jadi dari tugas Bu Riza ini, mungkin aku bisa cari sesuatu tentang inisial yang aku temukan waktu itu. Setelah selesai jamnya Bu Riza, aku langsung pulang. Aku ke kamarku dan menguncinya. Lalu kuambil semua barang yang aku temukan yang berkaitan dengan ayahku, pamanku, dan inisial itu.

Pertama, inisial. 8024 ZL 1 M. Angka itu. Aku langsung keluar dari kamarku, menguncinya dan pergi ke danau dekat rumahku yang dulu. Mencari pohon tua raksasa. Dan aku pelan-pelan menggali tanah dimana kotak rahasia itu disembunyikan. Kotak kayu yang masih utuh itu kubungkus dengan kain dan aku masukkan ke tas jinjingku. Lalu aku balik ke rumah. Di kamar, aku membuka kotak kayu itu. Ada foto-foto kami sekeluarga, berempat, bahagia, lucu dan lainnya. Aku lihat ada sesuatu seperti kertas di bawah lapisan kayu itu, aku mencoba membukanya. Dan aku menemukan kertas-kertas yang tampaknya sangat penting.

Ada surat-surat, artikel, foto-foto lain yang gak berkaitan dengan keluarga, dan sebuah kertas yang berisi inisial lain. CR 789. Aku tau ini. Ayahku pernah kasih tau CR itu ada kaitannya dengan bank. Mungkin kode ini bakal membawaku lebih jauh lagi. Tapi aku masih gak ngerti inisial yang sebelumnya. 8024 sudah tau. ZL. ZL itu bisa nama orang, nama toko atau bisa juga nama tempat. Aku search “ZL” di Google. Satu-satunya yang muncul dan masuk akal dengan perkiraanku hanya nama cafe.

Besoknya, setelah jam kuliah, aku naik taksi pergi ke ZL Cafe. Sampai di sana, di seberang cafe ada bank yang dulu sering kukunjungi bersama ayahku. Ayah mengajakku ke bank, ia juga punya teman dekat di sana. Mungkin aku bisa tanya sesuatu tentang ayahku ke dia. Aku masuk ke sana dan mengambil nomor antrian customer service. Setiba nomor antrianku disebutkan, aku jalan menuju ke meja 3. Pegawai di meja 3 itu langsung mengenaliku dan memanggil namaku. Sementara aku masih bingung dan berusaha mengingat-ingat siapa.

“Selamat siang,” sapanya. “Charlie?? Kamu Charlie, kan?”

“Iya,” jawabku bingung. “Maaf, kamu siapa? Kok bisa tau nama saya?”

“Nggak ingat, ya? Saya teman dekat ayahmu. CR.”

“CR? Ternyata CR itu anda, ya?” tanyaku sambil menunjukkan kertas inisial yang aku temukan.

“Iya. Sudah besar, ya. Itu.. bisa kita bicarakan setelah saya pulang kerja?”

“Oke, bisa. Saya tunggu di sini, ya.”

“Baik. Maaf, ya, merepotkan.”

“Nggak apa.”

Saat waktunya pulang kerja, CR langsung menghampiriku dan mengajakku ke perpustakaan. Katanya ini tempat teraman. Aku masih bingung, aman dari apa. Tapi aku ikuti saja dia. Setibanya di sana, CR mengeluarkan sebuah kotak. Di dalamnya ada file-file tentang pamanku, bukti kejahatannya, dan segala hal yang berkaitan dengan masalah ini. Ternyata, ayahku selama ini mau mengungkapkan kejahatan pamanku dan ia tahu itu.

“Ini maksudnya.... maksudnya pamanku memanipulasi kematian orang tuaku dan adikku?”

“Iya. Pamanmu pelakunya. Saya punya buktinya. Saya sudah aju kesaksian dan buktinya ke kantor polisi tapi gak ada yang percaya dan peduli. Itu karena jabatan pamanmu sudah tinggi. Maaf, Charlie, saya gak bisa kasih tau tentang ini saat itu...”

“Tidak apa, saya mengerti kenapa waktu itu nggak kasih tahu. Kok anda bisa mendapat barang buktinya? Masih ada bukti lain?”

“Ayahmu menyembunyikannya sebelum dia meninggal dan sebelum pamanmu membersihkan area pembunuhan dan memanipulasinya jadi kecelakaan. Saat itu, ayahmu menelepon saya untuk datang ke ZL Cafe. Tapi tiba-tiba, dia suruh saya ke gedung kosong dekat Cafe. Suaranya terdengar kesakitan ketika itu, jadi saya cepat-cepat pergi ke sana. Ternyata, saya terlambat. Ibumu dan adikmu sudah...... Ayahmu bilang jangan kasih tau ke Charlie sampe dia benar-benar siap dengan ini. Lalu dia menunjuk ke arah benda berplastik dengan bercak darah yang menjelaskan semuanya. Dia menyuruhku simpan supaya bisa jadi barang bukti untuk menghukum si Robert, pamanmu itu. Dan itu nafas terakhirnya. Saya langsung keluar dari sana sebelum pamanmu datang.”

“....ternyata...semuanya bohong!” kataku kesal setelah melihat bukti.

Kemudian aku langsung mengumpulkan semua berkas dan barang yang ada. Aku berusaha mencari cara untuk mengungkapkan itu. Aku coba minta bantuan seseorang. Seminggu berlalu dan masih tidak ada kemajuan.

Ketika di kelas, Bu Riza sedang menjelaskan materi yang baru. Aku melamun di kelas sampai tiba-tiba aku sadar dari melamunku karena ada kata “ibu punya kenalan detektif”. Aku merasa seperti punya harapan. Aku langsung menemui Bu Riza seusai  jam kuliah. Aku minta bantuan Bu Riza mengenalkanku ke detektif kenalan Bu Riza. Detektif MacTaylor namanya.

Besoknya aku bertemu dengan detektif itu. Aku menceritakan semuanya dan memberikan semua barang bukti dan berkas-berkasnya kepada pihak detektif itu untuk diperiksa dan diteliti. Aku memohon bantuannya agar terbukti bahwa orang tuaku dan adikku bukan meninggal karena kecelakaan. Dan bahwa pembunuhnya adalah paman saya yang pembohong.

Setelah beberapa hari, penelitian selesai. Bukti-bukti tersebut benar. Beberapa hal yang gak aku ketahui diceritakan oleh detektif. Ternyata arti 1 M itu 1 miliar uang yang dikorupsi pamanku. Aku sempat tak percaya. Tapi itulah kenyataannya. Kemudian, aku diberi tahu satu hal lagi. 789. Angka itu adalah nomor akun harta ayahku. Dan yang bisa membukanya hanya aku. Detektif MacTaylor memperlihatkan surat wasiat ayahku. Ternyata dia memberikan harta warisannya ke aku. Aku gak bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa diam.

Detektif MacTaylor kemudian langsung mengajukan surat penangkapan Robert ke atasannya. Izinnya dikabulkan dan paman ditangkap. Istri dan anaknya tidak menyangka hal itu terjadi. Setelah dijelaskan, mereka bisa merelakannya dan minta maaf ke aku. Aku harus berterima kasih banyak pada Detektif, Bu Riza, dan CR. Mereka sudah membantu banyak hingga sejauh ini.

Setelah penangkapan itu, aku pergi ke bank dimana CR bekerja. Aku mencoba mencari dan melihat harta ayahku. Aku minta bantuan CR. Dia mengantarku ke lantai 7. Dan aku harus mencari loker yang bernomor 89. Butuh 4 angka dan 2 huruf untuk membukanya. 8024 dan CM dari namaku Charlie May, itu yang pernah dibilang ayahku dan aku menekan tombol-tombolnya. Loker terbuka. Isinya banyak sekali uang, surat berharga, dan sebagainya. Dan akhirnya aku ngerti maksud 8024 yang dibilang ayahku. 8 “I Love You”, 0 “Forever”, 24 “Remember That”. Dan angka 789 juga ada maksud, 7 “God”, 8 “Unlimited”, 9 “Listen”. Artinya, Tuhan akan selalu mendengarkanmu walaupun aku tidak ada. Aku sayang padamu selamanya, ingat itu.

Kasus nyataku sudah selesai. Sekarang saatnya membuat cerita untuk tugas Bu Riza. Aku yakin saat ditanya nanti aku bisa menjawabnya.

No comments:

Post a Comment