Karena ada yang mau baca, jadi kupost nih. Kalau gak mau baca juga gak apa.
Sebelumnya, aku cuma mau kasih tau kalo nggak sepenuhnya kalimat di cerita ini kubuat sendiri. Soalnya ini tugas bahasa indonesia. Pertamanya kami disuruh bikin 1 kalimat pembuka. Lalu bukunya jalan-jalan, kalimat ke-2 sampai 9 dibuat sama teman. Seharusnya tambah 1 lagi. Tapi yang 1 itu latihan gerak jalan. *kalau gak ngerti abaikan saja*
Siapin hati dan pikiran serta imannya ya.
Sebelumnya, aku cuma mau kasih tau kalo nggak sepenuhnya kalimat di cerita ini kubuat sendiri. Soalnya ini tugas bahasa indonesia. Pertamanya kami disuruh bikin 1 kalimat pembuka. Lalu bukunya jalan-jalan, kalimat ke-2 sampai 9 dibuat sama teman. Seharusnya tambah 1 lagi. Tapi yang 1 itu latihan gerak jalan. *kalau gak ngerti abaikan saja*
Siapin hati dan pikiran serta imannya ya.
Oke, selesai ngebacotnya.
.
.
.
maaf belum bikin judul
Hari ini hari yang berat bagiku. Aku
jadi tidak mood karena dimarahi oleh orangtuaku. Aku merasa bingung harus
berbuat apa. Akibatnya, aku galau seharian. Adikku yang melihatku
galau pun jadi ikutan galau. Aku pun tambah galau. Sampai semua orang
di sekitarku pun galau. Saking galaunya, aku harus meminta Celpin untuk
membelikan es milo untukku. Tetapi Celpin tidak punya uang, aku pun
meminta Henderi membelikan es milo untukku. Dan sama juga, Henderi tidak
punya uang karena tadi dipakainya untuk membeli dua bungkus nasi padang
langganannya. Celpin dan Henderi yang tinggal sebelah rumahku ini ternyata
tidak bisa membantuku. Teringat dulu aku sering galau bersama teman-teman
SMPku, aku pikir di tempat kami biasa nongkrong itulah tempat yang mungkin pas
untukku saat ini. Jadi aku pergi ke sana sambil berharap ada teman yang akan
menemaniku di sana.
Aku ambil sepedaku yang kuletakkan di
garasi dan mengelapnya. Dan kemudian kupakai untuk pergi ke tempat yang akan
kukunjungi. Sejauh 50 meter telah kulewati, 100 meter lagi yang perlu kujalani
untuk tiba di sana. Aku berhenti sebentar mengistirahatkan kakiku yang baru
saja sembuh dari terkilir. Tiba-tiba aku melihat sesuatu yang memikat mataku.
Ternyata tetesan darah yang bercecer di atas trotoar sampai ke depan pintu
rumah yang katanya angker.
“Astaga, kenapa aku berhentinya di
sini? Seram, sendirian lagi,” pikirku.
Dengan panas dan teriknya matahari
beserta heningnya tempat ini, aku jadi teringat film horor yang baru saja
kutonton tempo hari. Jadi, agar rasa ketakutanku tidak berlangsung lama, aku
langsung melanjutkan perjalananku. Ketika aku baru mau mengayunkan kakiku, tiba-tiba
terdengar seorang wanita berteriak minta tolong. Pertama aku bingung dari mana
suara itu. Tetapi setelah kedua kalinya wanita itu berteriak, aku sadar kalau
suara teriakan itu berasal dari rumah angker itu. Aku jadi bimbang, mau
kutolong atau kutinggalkan wanita itu. Kalau kutolong, aku takut di dalam sana
ternyata tidak ada orang dan akhirnya aku ketakutan sendiri. Kalau
kutinggalkan, bagaimana kalau di sana benar-benar ada orang dalam bahaya?
“Tapi sekarang masih siang, gak mungkin ada hantu,” pikirku lagi.
Jadi aku memutuskan untuk masuk ke
sana. Kulangkahkan kakiku menuju rumah itu dan kuikuti jejak tetesan darah itu.
Kulihat banyak sekali jejak sepatu boot di lantai teras rumah itu, suara
teriakan itu makin lemah. Kemudian aku memegang gagang pintu yang terlihat baru
itu dan membukanya secara perlahan.
t o b e c o n t i n u e d . . .
Rada" suspense gitu ya ceritanya.. Kapan lanjutnya?
ReplyDelete